Long tail vs short tail keyword – Perbedaan antara long tail dan short tail keyword penting untuk dipahami ketika menyusun strategi SEO, baik untuk website sendiri maupun kebutuhan klien.
Memahami kedua jenis keyword ini dapat membantu Anda menentukan target pencarian yang lebih tepat.
Banyak pemilik website maupun penulis konten merasa telah menggunakan keyword yang sesuai.
Namun pada kenyataannya, artikel yang dibuat masih sulit mendapatkan posisi di halaman Search Engine Results Page (SERP).
Hal ini sering disebabkan oleh pemilihan jenis keyword yang kurang tepat.
Banyak orang hanya terpaku pada keyword dengan volume pencarian tinggi tanpa memahami tingkat persaingan serta search intent dari pengguna.
Akibatnya, konten yang sebenarnya sudah bagus malah sulit bersaing karena harus melawan ribuan halaman lain dengan target keyword yang sama.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Anda perlu memahami perbedaan antara long tail keyword dan short tail keyword seperti yang sebelumnya telah kita bahas. Keduanya memiliki ciri, tingkat kompetisi, dan peluang trafik yang berbeda dalam penerapan strategi SEO.
Apa itu Long Tail Keywords?
Long tail keyword adalah frasa pencarian yang lebih spesifik dan biasanya terdiri dari tiga kata atau lebih. Jenis keyword ini digunakan untuk menargetkan audiens tertentu dengan tujuan pencarian yang lebih jelas.

Dibandingkan short tail keyword, long tail keyword memiliki penjelasan yang lebih rinci sehingga mampu menjangkau pengguna yang mencari informasi secara spesifik.
Contohnya seperti “es kopi susu gula aren” atau “cara membuat kopi susu gula aren”.
Penggunaan long tail keyword dapat membantu mendatangkan trafik yang lebih tertarget ke website.
Meskipun volume pencariannya cenderung lebih kecil, keyword jenis ini sering memberikan tingkat konversi yang lebih tinggi karena lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.
“Pencarian ekor panjang tidak hanya lebih panjang. Mereka juga lebih spesifik. Mereka biasanya memiliki niat pencarian komersial atau transaksional.”
– Brian Dean, Pendiri Backlinko
Coba perhatikan, mana keyword yang memiliki tujuan pencarian lebih jelas, “sepatu lari” atau “sepatu lari terbaik untuk orang yang tinggi”?
Tentu Anda akan menyadari bahwa keyword kedua, yang termasuk long tail keyword, memiliki target pencarian yang lebih spesifik dan berpeluang menghasilkan konversi lebih tinggi.
Karena itulah para praktisi SEO (Jasa SEO) dan digital marketer sering menggunakan long tail keyword dalam konten mereka agar lebih sesuai dengan kebutuhan audiens sekaligus meningkatkan peluang tampil di halaman hasil pencarian atau SERP.
Apa itu Short Tail Keywords?
Berbeda dari long tail keyword, short tail keyword umumnya menggunakan kata yang lebih singkat dan bersifat umum.
Jenis keyword ini biasanya hanya terdiri dari satu hingga dua kata, contohnya seperti “kopi” atau “biji kopi”.
Namun, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, short tail keyword memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi di mesin pencari.
Semakin besar keyword difficulty yang dimiliki, maka semakin sulit juga sebuah website untuk mendapatkan posisi di halaman pertama Google.
Walaupun begitu, bukan berarti short tail keyword tidak bisa digunakan untuk meraih ranking tinggi di hasil pencarian.
Untuk melihat seberapa ketat persaingan keyword seperti “kopi” di mesin pencari, Anda dapat memperhatikan ilustrasi pada gambar berikut.

Dari hasil pencarian kata “kopi” saja, terdapat sekitar 114 juta hasil di Google dalam bahasa Indonesia!
Artinya, Anda harus bersaing dengan ratusan juta halaman web lain untuk kata kunci tersebut.
Lalu Apa Bedanya Kata Kunci Long Tail vs Short Tail?
Perbedaan utama antara long tail dan short tail keyword dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:
- Spesifisitas: Long tail keyword lebih detail dan spesifik, sehingga menargetkan audiens yang lebih niche. Sebaliknya, short tail keyword bersifat lebih umum dan menjangkau audiens yang lebih luas.
- Panjang: Long tail keyword biasanya lebih panjang, umumnya terdiri dari tiga kata atau lebih. Sementara itu, short tail keyword lebih singkat, biasanya hanya satu hingga dua kata.
- Volume Pencarian: Long tail keyword cenderung memiliki volume pencarian yang lebih rendah, tetapi tingkat konversinya lebih tinggi karena lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Short tail keyword memiliki volume pencarian yang lebih besar, namun tingkat konversinya biasanya lebih rendah.
- Kompetisi: Long tail keyword umumnya memiliki tingkat persaingan yang lebih rendah di hasil pencarian mesin seperti Google. Sedangkan short tail keyword jauh lebih kompetitif karena banyak website menargetkannya.
Setelah memahami perbedaan tersebut, langkah selanjutnya adalah mempelajari bagaimana cara menemukan keyword yang tepat untuk strategi SEO Anda.
Cara Menemukan Long Tail dan Short Tail Keyword
Untuk mendapatkan short tail maupun long tail keyword, langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan riset kata kunci menggunakan berbagai tools SEO, seperti:
- Ahrefs
- Semrush
- Google Keyword Planner
- Ubersuggest
Selain menggunakan tools tersebut, Anda juga bisa memanfaatkan fitur gratis dari Google seperti Google Autocomplete, Google Related Search, hingga bagian “People Also Ask” untuk menemukan variasi keyword yang sering dicari pengguna.
Sebagai contoh, Google Autocomplete dapat memberikan ide keyword tambahan berdasarkan kata yang sedang diketik pengguna.

Gambar tersebut menampilkan fitur Google Autocomplete yang memberikan saran pencarian otomatis saat pengguna mengetikkan kata kunci dasar “kopi”.
Saran pencarian ini mencerminkan tren perilaku pengguna dan data lokasi real-time untuk memudahkan pencarian informasi yang lebih spesifik.
Bagian atas menunjukkan niat pencarian navigasi dan transaksional melalui merek-merek populer seperti Kopi Kenangan serta Kopi Tuku yang memiliki volume pencarian tinggi.
Terdapat juga saran berbasis Local SEO seperti “kopi jakarta barat” dan “terdekat” yang muncul karena Google mendeteksi lokasi geografis pengguna saat ini.
Fitur ini juga menampilkan Knowledge Panel singkat di sisi kanan yang memberikan visualisasi gambar dan kategori produk untuk memperkuat entitas kata kunci tersebut.
Satu saran pencarian terlihat sangat panjang dan spesifik mengenai komposisi robusta dan arabika, yang mengindikasikan adanya tren informasi teknis yang sering dicari audiens.
Analisis Kata Kunci Pesaing
Salah satu cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan melihat kata kunci yang digunakan oleh kompetitor. Dari sana, Anda bisa menjadikannya sebagai referensi atau dasar untuk menemukan variasi long tail keyword yang lebih potensial.
“Analisis pesaing SEO sangat efektif dalam menemukan celah kata kunci. Ini adalah peluang di mana pesaing Anda mendapatkan peringkat untuk kata kunci yang belum Anda targetkan.”
– Anna York, Ahli SEO
Dalam contoh ini, kita gunakan alat gratis bernama Ubersuggest. Masukkan URL kompetitor pada kolom pencarian yang telah tersedia.

Pilih bahasa serta negara yang sesuai dengan target audiens Anda. Klik tombol cari berwarna oranye untuk memulai proses audit.

Gambar menunjukan kompetitor sangat mendominasi kata kunci umum seperti kopi yang memiliki volume jutaan pencarian.
Keberhasilan mereka menduduki peringkat pertama pada frasa menu kopi kenangan membuktikan strategi optimasi konten transaksional yang efektif.
Penguasaan pada kata kunci near me memastikan trafik dari pencarian lokal langsung mengarah ke gerai fisik mereka secara akurat.
Melihat “People Also Ask” dan “People also search for”
Selain memakai tools SEO, Anda juga bisa memanfaatkan Google untuk menemukan ide long tail keyword tambahan secara gratis.
Setelah mengetikkan kata kunci umum di Google, scroll ke bawah atau lihat bagian tengah halaman untuk menemukan fitur “People also ask” (Orang lain juga bertanya) dan “People also search for” (Orang lain juga menelusuri). Dari sini, Anda bisa melihat berbagai pertanyaan dan pencarian terkait yang sering digunakan pengguna.
Sebagai contoh, untuk kata kunci “kopi”, bagian “People also ask” biasanya menampilkan pertanyaan seperti:
- Apa saja manfaat dari kopi?
- Jantung bengkak apa boleh minum kopi?
- Apakah eksim boleh minum kopi?
- Apakah kopi bisa meredakan migrain?

Scroll hingga bagian paling bawah halaman hasil pencarian (SERP), lalu Anda akan menemukan bagian “Orang juga mencari” yang berisi berbagai ide tambahan untuk kata kunci ekor panjang.

Bagian ini bisa memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya dicari pengguna. Dari sana, Anda juga dapat menemukan berbagai kata kunci ekor panjang yang relevan atau ide informasi tambahan yang bisa dimasukkan ke dalam halaman Anda.
Gunakan Google Search Console
Gunakan Google Search Console untuk menganalisis performa konten di website Anda. Dari dashboard, Anda bisa melihat data kueri pencarian yang membawa pengunjung ke situs Anda.

Perhatikan terutama kata kunci yang berbentuk frasa panjang karena ini bisa dijadikan peluang long tail keyword. Kata kunci tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan atau mengembangkan konten yang sudah ada.
Untuk melakukannya, masuk ke Google Search Console lalu pilih menu Performance dan klik Search results. Di bagian ini, Anda akan menemukan daftar query yang paling banyak menghasilkan traffic ke website Anda.
Kadang-kadang, sebuah halaman di website bisa muncul di hasil pencarian untuk long tail keyword meskipun sebelumnya tidak ditargetkan secara khusus.
Jika hal ini terjadi, Anda bisa memanfaatkan kata kunci tersebut sebagai ide untuk membuat halaman baru yang lebih spesifik dan terfokus.
Long Tail vs Short Tail Keyword: Mana yang Lebih Efektif?
Setelah mengenal masing-masing jenis keyword, wajar jika muncul pertanyaan: “mana yang sebenarnya lebih bagus digunakan, long tail atau short tail keyword?”
Pada kenyataannya, keduanya tidak bisa dibandingkan secara mutlak karena sama-sama punya fungsi berbeda dalam strategi SEO.
Long tail keyword umumnya memberikan peluang lebih besar untuk memperoleh ranking yang lebih stabil serta traffic yang lebih relevan dari mesin pencari seperti Google.
Long tail keyword umumnya memiliki tingkat persaingan yang lebih rendah dibandingkan short tail keyword sehingga lebih mudah untuk mendapatkan peringkat di mesin pencari.
Long tail keyword juga lebih efektif dalam meningkatkan konversi karena pengguna yang mencarinya biasanya sudah memiliki kebutuhan yang lebih spesifik.
Menurut Neil Patel, long tail keyword yang terdiri dari empat kata atau lebih menyumbang sekitar 95,88% dari total pencarian di Google sehingga potensi traffic-nya sangat besar.
Semakin banyak konten berkualitas yang dibuat dengan menargetkan long tail keyword, semakin besar peluang untuk mendapatkan traffic organik yang relevan.
Jangan meremehkan Short tail keyword, kata kunci ini tetap penting karena memiliki volume pencarian yang tinggi dan mampu membantu meningkatkan brand awareness.
Namun, short tail keyword memiliki tingkat persaingan yang jauh lebih ketat sehingga membutuhkan strategi yang lebih kuat untuk bisa bersaing di hasil pencarian.
Apa yang Akan Ditanyakan Audiens Anda?
Coba pikirkan pertanyaan-pertanyaan spesifik yang kemungkinan diajukan oleh audiens Anda.
Long tail keyword sering kali berbentuk pertanyaan yang lebih detail, misalnya “cara melatih anak anjing agar tidak menggigit” atau “kapan waktu terbaik posting di Instagram”.
Konten yang dibuat untuk menjawab pertanyaan seperti ini biasanya lebih mudah menarik traffic yang benar-benar sesuai target.
Jika Anda memiliki layanan pelanggan, Anda juga bisa mengumpulkan data pertanyaan dari customer sebagai sumber ide long tail keyword yang relevan.
Menyimpulkan
Tidak ada yang bisa disebut paling unggul secara mutlak antara long tail dan short tail keyword. Keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam strategi SEO dan dapat digunakan secara bersamaan.
Menggabungkan kedua jenis keyword ini akan membantu memaksimalkan hasil optimasi. Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan menemukan keseimbangan yang tepat antara long tail dan short tail keyword dalam strategi konten Anda.







